Jumat, 16 Desember 2011

TOPENG ITU BERNAMA KEMUNAFIKAN


Jika berkata bohong, jika dipercaya berkhianat, jika berjanji tidak ditepati. Tiga cirri kemunafikan itu sudah kita hafal sejak kelas 3SD. Tapi, sejatinya implikasi kemunafikan tersebut bias menggerogoti jiwa raga kita tanpa pernah kita menyadari. Sebuah pertanyaan besar temntang apakah kita telah yakin, bahwa kita bukan golongan orang orang munafik dengan berbagai implikasi, ataukah kita tanpa disadari, telah menjadi bagian dari golongan tersebut?
Ragam ilustrasi nyata tentang kehidupan para sahabat hasil tarbiyah Nabi terbukti telah menghasilkan manusia manusia terbaik dalam sejarah dunia. Misalnya seorang Bilal Bin Rabah saja malu ‘duluan’  untuk berbuatn menyeleweng dari tuntunan Rasul. Karena Bilal begitu tersanjungnya dengan pujian Rasulullah, bahwa sandal Bilal sudah tercium bau surge. Itu baru sandalnya. Bagaimana dengan akhlakny?
Namun, ditengah generasi terbaik tersebut, ada saja orang orang yang bermuka manis didepan, tetapi menusuk dibelakang. Itulah orang orang munafik, yang pada masa rasulallah mengaku beriman. Tapi dibelakang bersekongkol untuk menghancurkan islam.sudah pasti “that’s the most dangerous man in the world”
Qur’an surat Al-Hadid ayat 13-14 telah menggambarkan bagaimana kkondisi akhir orang orangmunafik ditengah tengah orang beriman. Ketika kaum mukmin diliputi cahaya Rahmat Allah, kaum munafik tersebut justru berada dalam kegelapan yang mereka sangat ingin meminta percikan cahaya orang orang mukmin. Dan ketika kaum munafik memprotes mengapa mereka harus terpisah dengan kaum mukmin. Padahal dulunya mereka slalu dalam kebersamaan? Kaum mukmin pun menjawab “benar, tetapi kamu kecelakaan diirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu, meragukan (janji Allah) , dan ditipu oleo angan angan kosong sampai datang ketetapan Allah…”
Saat kita merasa hasil kerja keras kita uang ataupun jabatan, ataupun apa saja, membuat kita berhak memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri, maka hati hatilah karna barangkali kita sudah mencelakakan diri sendiri. Makan enak, plesir sana kemari, berbaju fashionable, dan mengikuti tren. Bersepatu, berjilbab, ber-bros yang serba matching sah sah aja, karena itu berasal dari hasil kerja kita. Tapi tidaklah kita juga ingat untuk menyedekahkan, setidaknya 2,5% dari pendapatan kita? Atau pernahkah kita selalu mengosongkan 1 saja baju lama dari lemari saat baju baru mengisi rak rak baju kita?
Meninggalkan ketaatan yang sudah biasa kita lakukan, misalnya shalad tahajud, tilawah atau puasa sunnah, dengan alas an berbagai kesibukan dan amanah yang bertambah, maka berhati-hatilah. Boleh jadi itu juga sudah mencelakakan diri kita sendiri. Saat menunggu umur kita tua untuk lebih banyak beramal. Maka berhati-hatilah jika kita telah menjadi orang munafik. Atau saat kita berorientasi pada hasil, apakah dengan rajin sholat, sedekah, puasa, ataupun mengaji. Maka Allah akan menjadikan kita kaya, pintar, sehat , dan terbebas dari musibah? Jika demikian halnya, maka ibadah bukan sebagai ketaatan tanpa syarat pada Allah. Tapi kegiatan yang seharusnya menghasilkan! Maka, orang yang munafik pun menunggu kehancuran dirinya sendiri tanpa dia sadari, sembari dia melihat kehancuran orang orang mukmin.
Demikain pula manakah kita termasuk orang-orang yang ragu dengan janji Allah? Maka berhati-hatilah jika Alqur’an menggolongkan kita sebagai kaum munafik. Sampai pada kesimpulannya, bahwa orang-orang munafik mencerminkan ketertipuan mereka terhadap angan-angan kosong yang mereka yakin adanya. Tidakkah ini saatnya bagi kita untuk melepas ‘topeng-topeng’ itu untuk menjdadi diri kita sesungguhnya? Makhluk Allah yang hanya pantas dihargai karena ketakwaannya? Allahu’allam bish showab

Dessy Nuraini A,S.S,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar