Jika berkata
bohong, jika dipercaya berkhianat, jika berjanji tidak ditepati. Tiga cirri
kemunafikan itu sudah kita hafal sejak kelas 3SD. Tapi, sejatinya implikasi
kemunafikan tersebut bias menggerogoti jiwa raga kita tanpa pernah kita
menyadari. Sebuah pertanyaan besar temntang apakah kita telah yakin, bahwa kita
bukan golongan orang orang munafik dengan berbagai implikasi, ataukah kita
tanpa disadari, telah menjadi bagian dari golongan tersebut?
Ragam
ilustrasi nyata tentang kehidupan para sahabat hasil tarbiyah Nabi terbukti
telah menghasilkan manusia manusia terbaik dalam sejarah dunia. Misalnya
seorang Bilal Bin Rabah saja malu ‘duluan’
untuk berbuatn menyeleweng dari tuntunan Rasul. Karena Bilal begitu
tersanjungnya dengan pujian Rasulullah, bahwa sandal Bilal sudah tercium bau
surge. Itu baru sandalnya. Bagaimana dengan akhlakny?
Namun,
ditengah generasi terbaik tersebut, ada saja orang orang yang bermuka manis
didepan, tetapi menusuk dibelakang. Itulah orang orang munafik, yang pada masa
rasulallah mengaku beriman. Tapi dibelakang bersekongkol untuk menghancurkan
islam.sudah pasti “that’s the most dangerous man in the world”
Qur’an surat
Al-Hadid ayat 13-14 telah menggambarkan bagaimana kkondisi akhir orang
orangmunafik ditengah tengah orang beriman. Ketika kaum mukmin diliputi cahaya
Rahmat Allah, kaum munafik tersebut justru berada dalam kegelapan yang mereka
sangat ingin meminta percikan cahaya orang orang mukmin. Dan ketika kaum
munafik memprotes mengapa mereka harus terpisah dengan kaum mukmin. Padahal
dulunya mereka slalu dalam kebersamaan? Kaum mukmin pun menjawab “benar, tetapi
kamu kecelakaan diirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu, meragukan (janji
Allah) , dan ditipu oleo angan angan kosong sampai datang ketetapan Allah…”
Saat kita
merasa hasil kerja keras kita uang ataupun jabatan, ataupun apa saja, membuat
kita berhak memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri, maka hati hatilah
karna barangkali kita sudah mencelakakan diri sendiri. Makan enak, plesir sana
kemari, berbaju fashionable, dan mengikuti tren. Bersepatu, berjilbab, ber-bros
yang serba matching sah sah aja, karena itu berasal dari hasil kerja kita. Tapi
tidaklah kita juga ingat untuk menyedekahkan, setidaknya 2,5% dari pendapatan
kita? Atau pernahkah kita selalu mengosongkan 1 saja baju lama dari lemari saat
baju baru mengisi rak rak baju kita?
Meninggalkan
ketaatan yang sudah biasa kita lakukan, misalnya shalad tahajud, tilawah atau
puasa sunnah, dengan alas an berbagai kesibukan dan amanah yang bertambah, maka
berhati-hatilah. Boleh jadi itu juga sudah mencelakakan diri kita sendiri. Saat
menunggu umur kita tua untuk lebih banyak beramal. Maka berhati-hatilah jika
kita telah menjadi orang munafik. Atau saat kita berorientasi pada hasil,
apakah dengan rajin sholat, sedekah, puasa, ataupun mengaji. Maka Allah akan
menjadikan kita kaya, pintar, sehat , dan terbebas dari musibah? Jika demikian
halnya, maka ibadah bukan sebagai ketaatan tanpa syarat pada Allah. Tapi
kegiatan yang seharusnya menghasilkan! Maka, orang yang munafik pun menunggu
kehancuran dirinya sendiri tanpa dia sadari, sembari dia melihat kehancuran
orang orang mukmin.
Demikain pula
manakah kita termasuk orang-orang yang ragu dengan janji Allah? Maka
berhati-hatilah jika Alqur’an menggolongkan kita sebagai kaum munafik. Sampai
pada kesimpulannya, bahwa orang-orang munafik mencerminkan ketertipuan mereka
terhadap angan-angan kosong yang mereka yakin adanya. Tidakkah ini saatnya bagi
kita untuk melepas ‘topeng-topeng’ itu untuk menjdadi diri kita sesungguhnya?
Makhluk Allah yang hanya pantas dihargai karena ketakwaannya? Allahu’allam bish
showab
Dessy Nuraini
A,S.S,